Kaltengpedia.com – PALANGKA RAYA – Di tengah meningkatnya dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah, masyarakat diminta tidak mengabaikan gangguan kesehatan yang muncul akibat paparan kabut asap.
Kabar baiknya, peserta Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) tetap mendapatkan jaminan pelayanan kesehatan untuk gangguan kesehatan, termasuk infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang dipicu kabut asap, selama status kepesertaan JKN dalam kondisi aktif.
Kepala BPJS Kesehatan Kantor Cabang Palangka Raya K Hindro Kusumo mengatakan masyarakat tidak perlu ragu memanfaatkan layanan kesehatan apabila mulai mengalami keluhan akibat paparan kabut asap.
“Untuk pelayanan kesehatan terkait ISPA tentunya dijamin oleh Program JKN selama kepesertaan JKN aktif. Jadi masyarakat tidak perlu khawatir,” kata Hindro di Palangka Raya, Jumat (28/8/2026).
Ia mengimbau masyarakat yang mulai mengalami gangguan kesehatan untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) tempat peserta terdaftar.
Menurutnya, kondisi karhutla yang terjadi di sejumlah wilayah Kalteng berpotensi memberikan dampak terhadap kesehatan masyarakat sehingga perlu diantisipasi sejak dini.
Selain segera memeriksakan diri ketika muncul keluhan, masyarakat juga diminta menerapkan pola hidup sehat, menggunakan masker ketika beraktivitas, mengurangi kegiatan di luar ruangan, serta menjaga kebersihan diri dan lingkungan.
“Jangan ragu untuk memanfaatkan layanan kesehatan apabila mengalami keluhan akibat kabut asap. Yang terpenting kepesertaan JKN tetap aktif,” ujarnya.
Dampak kabut asap juga dirasakan warga Desa Tumbang Nusa, Saifuli (61). Sebagai petani, ia bersama warga, personel TNI dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) turut berjaga di sekitar perbatasan lahan warga dan titik api untuk mengantisipasi meluasnya karhutla.
Aktivitas tersebut membuat kondisi fisiknya cukup terkuras. Terlebih, Saifuli memiliki riwayat hipertensi dan mengaku mengalami sejumlah keluhan kesehatan ketika karhutla terjadi.
Ia bahkan harus menjalani kontrol di RSUD Kota Palangka Raya. Menurutnya, bukan hanya dirinya yang merasakan dampak tersebut. Sejumlah warga lainnya juga mengalami keluhan seperti sakit kepala, pusing, mual, sesak napas hingga diare.
“Dampak kabut asap memang sering dirasakan saat musim karhutla, namun asal punya BPJS (Program JKN) pengobatannya aman,” kata Saifuli.
Keluhan kesehatan juga dialami Anisavitri (36), warga Kota Palangka Raya sekaligus peserta JKN. Ia tengah mendampingi anak bungsunya yang baru berusia lima bulan menjalani rawat inap di RS PKU Muhammadiyah Palangka Raya.
Anaknya mengalami diare dan dehidrasi selama sekitar satu pekan. Setelah sebelumnya mendapatkan pelayanan rawat jalan di poli anak, kondisi sang buah hati justru semakin lemas sehingga akhirnya harus menjalani rawat inap.
“Dampak kabut asap ini benar-benar meresahkan, terutama bagi kami yang memiliki anak kecil. Putra saya mengalami diare dan dehidrasi selama seminggu terakhir,” katanya.
Anisavitri mengatakan pelayanan rumah sakit berjalan cepat dan tidak mengalami kendala ketika proses rawat inap.
“Hari ini baru hari pertama rawat inap, sejauh ini layanan rumah sakitnya cepat dan tidak ada kendala,” ujarnya.
Di tengah memburuknya kualitas udara, perhatian terhadap kesehatan masyarakat memang semakin penting. Sebelumnya, Pemerintah Kota Palangka Raya juga memperkuat kesiapan puskesmas untuk menangani dampak kabut asap, termasuk menyiapkan ruang oksigen di sejumlah fasilitas kesehatan.
Bahkan, Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya memberikan opsi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi peserta didik PAUD, SD, dan SMP pada 28, 29 dan 31 Agustus 2026 sebagai langkah perlindungan kesehatan akibat memburuknya kualitas udara.
Karena itu, masyarakat diimbau tidak menunggu kondisi semakin parah. Memastikan status kepesertaan JKN tetap aktif menjadi salah satu langkah penting agar akses pelayanan kesehatan dapat digunakan ketika dibutuhkan.
BPJS Kesehatan sendiri menyediakan layanan untuk mengecek status kepesertaan, termasuk melalui Mobile JKN dan kanal PANDAWA.





















