kaltengpedia.com – Perum Bulog Kantor Wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng) memperkuat distribusi beras ke pasar rakyat hingga jaringan ritel. Langkah ini dilakukan untuk memastikan pasokan tetap tersedia sekaligus menahan gejolak harga beras di tingkat konsumen.
Pemimpin Wilayah Bulog Kalteng Erwin Budiana mengatakan beras yang disalurkan kepada masyarakat berasal dari dua kategori, yakni beras Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) serta beras komersial.
“Pasokan beras yang disalurkan kepada masyarakat terdiri atas beras SPHP serta beras komersial,” kata Erwin di Palangka Raya, Sabtu.
Data Bulog mencatat, penyaluran beras SPHP di Kalteng sejak Maret hingga 4 September 2026 telah mencapai lebih dari 6.649 ton. Angka tersebut setara sekitar 78,51 persen dari target penyaluran sepanjang 2026 yang mencapai lebih dari 8.469 ton.
Sementara penyaluran beras komersial hingga 4 September 2026 tercatat telah mencapai lebih dari 2.326 ton.
Di tengah kebutuhan masyarakat terhadap beras dengan harga terjangkau, Bulog Kalteng menyediakan beras medium SPHP seharga Rp58.000 per kemasan lima kilogram. Sementara beras premium dijual Rp77.000 per kemasan lima kilogram.
Bukan hanya memperbesar volume penyaluran, Bulog juga memperluas jalur distribusi agar beras lebih mudah dijangkau masyarakat. Pasar rakyat dan jaringan ritel menjadi bagian dari saluran distribusi yang terus diperkuat.
Saat ini, total stok beras yang dimiliki Bulog Kalteng mencapai sekitar 15.435 ton.
Erwin mengatakan penguatan distribusi tersebut menjadi bagian dari langkah preventif Bulog dalam menjaga stabilitas pangan. Pemantauan harga dan ketersediaan pasokan dilakukan secara langsung untuk membaca lebih cepat setiap perubahan kondisi pasar.
“Monitoring secara langsung di lapangan menjadi langkah preventif untuk mengetahui dinamika harga maupun potensi gangguan pasokan sehingga dapat diantisipasi dan ditangani sedini mungkin,” ujarnya.
Langkah tersebut sejalan dengan instruksi Perum Bulog yang mengerahkan jajarannya di seluruh Indonesia untuk melakukan pemantauan pasar secara serentak. Fokusnya memastikan kebutuhan pokok tetap tersedia sekaligus menjaga harga beras tetap terkendali.
Secara nasional, kekuatan stok pemerintah juga masih menjadi penyangga untuk melakukan intervensi pasar. Per 5 September 2026, stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Bulog tercatat sekitar 4,9 juta ton dan tersebar di jaringan pergudangan Bulog di seluruh Indonesia.
Sementara itu, penyaluran beras SPHP secara nasional sepanjang 2026 hingga 5 September telah mencapai sekitar 756 ribu ton.
Menurut Erwin, kondisi stok tersebut memberikan ruang bagi Bulog untuk melakukan intervensi pasar secara terukur ketika harga mengalami tekanan atau kebutuhan masyarakat meningkat.
Selain beras SPHP, Bulog juga mendorong penguatan pasokan beras premium dan sejumlah komoditas pangan lainnya.
Dengan stok yang masih besar, perluasan distribusi dan monitoring pasar menjadi kunci agar pasokan tidak hanya tersedia di gudang, tetapi benar-benar sampai ke tingkat konsumen dengan harga yang terjangkau.
Bulog memastikan operasi pasar, penguatan distribusi, serta pengawasan harga akan terus menjadi instrumen untuk menjaga keseimbangan pasokan dan harga pangan di tengah dinamika kebutuhan masyarakat.





















