Polda Kalteng Bongkar Fakta Karhutla: Api Padam, Tapi Bara Masih Hidup di Bawah Gambut?

Dok. ANTARA

kaltengpedia.com – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah belum sepenuhnya berakhir.  Polda Kalteng mengungkap salah satu persoalan serius dalam penanganan kebakaran gambut, yakni bara api yang tetap bertahan di bawah permukaan meski api di atas tanah telah dipadamkan.

Kapolda Kalimantan Tengah Irjen Pol Iwan Kurniawan mengatakan karakteristik lahan gambut membuat pemadaman membutuhkan penanganan khusus. Api yang terlihat padam di permukaan belum tentu menandakan kebakaran benar-benar selesai.

“Lahan gambut yang terbakar walaupun sudah dipadamkan kadang kala masih ada bara api yang tersimpan di bawah. Oleh sebab itu, ini kadang menimbulkan asap yang cukup banyak dan ketika ada angin juga bisa menimbulkan api lagi,” kata Iwan di Palangka Raya, Sabtu (5/9/2026).

Bara yang tersimpan di bawah permukaan dapat terus menghasilkan asap. Dalam kondisi tertentu, bara tersebut bahkan dapat kembali menyala ketika mendapat dorongan angin dan kondisi lahan yang mendukung.

Untuk memburu titik panas yang tidak terlihat secara kasatmata, Polda Kalteng bersama Korps Brimob Polri menggunakan drone thermal. Teknologi tersebut digunakan untuk mendeteksi titik panas yang berada di dalam maupun di bawah permukaan lahan gambut.

Setelah titik panas ditemukan, petugas melakukan pembasahan menggunakan Hartindo AF31 yang telah dicampur dengan air. Campuran tersebut dapat diaplikasikan dengan metode injeksi untuk menjangkau bagian bawah permukaan tanah tempat bara masih tersimpan.

“Dengan menggunakan drone thermal, kita ketahui titik-titik apinya ada di mana, kemudian kita injek dengan menggunakan bahan Hartindo AF31 yang sudah dicampur dengan air,” ujarnya.

Iwan mengatakan hasil uji coba di lapangan menunjukkan Hartindo AF31 cukup efektif membantu mempercepat pemadaman bara di bawah permukaan sekaligus menekan asap yang muncul dari kebakaran gambut.

Metode tersebut juga dinilai lebih efisien karena petugas tidak harus membasahi seluruh area yang terbakar. Terlebih, ketersediaan air di sejumlah lokasi mulai menipis.

“Kalau kita membasahkan semua, saat ini air juga sudah mulai menipis. Kita akan lebih mudah dan lebih efisien,” katanya.

Selain untuk memadamkan bara, Hartindo AF31 juga dapat digunakan sebagai penyekat rambatan api. Campuran bahan tersebut dapat disemprotkan pada vegetasi kering untuk membentuk jalur pembatas sehingga api tidak mudah merambat ke area lainnya.

Dalam penanganannya, personel Brimob juga menggunakan peralatan pemadam portabel jenis jet shooter atau tas ransel air. Bahan pemadam tersebut sebelumnya telah melalui uji coba dan sosialisasi Korps Brimob bersama Polda jajaran di sejumlah wilayah rawan karhutla, termasuk Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Jambi.

Iwan menyebut Hartindo AF31 telah didistribusikan ke sejumlah wilayah untuk mendukung proses pembasahan dan penanganan bara yang masih tersimpan di lahan gambut.

Kondisi ini kembali menunjukkan bahwa karhutla di lahan gambut bukan sekadar persoalan memadamkan api yang terlihat. Ketika permukaan sudah tampak aman, ancaman justru bisa masih bersembunyi di bawah tanah.

Bara yang tidak terdeteksi dapat terus mengeluarkan asap dan kembali menjadi api. Karena itu, memastikan kebakaran benar-benar padam membutuhkan deteksi hingga ke titik panas yang tersembunyi di bawah permukaan.

Pos terkait