Pelajar SMP Palangka Raya ditetapkan Tersangka Kasus Aborsi

Kasat Reskrim Kompol Ronny Marthius Nababan didampingi Kasi Humas Iptu Sukri dan Kanit Jatanras Ipda Helmi ketika menunjukkan barang bukti.

kaltengpedia.com, Palangka raya –  Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polresta Palangka Raya menetapkan NSA (15) dan AR (15) sebagai tersangka dalam kasus aborsi. Sepasang kekasih yang baru duduk di kelas 3 SMP di Kota Palangka Raya ini ditangkap setelah berupaya mengubur janin hasil asmara keduanya digagalkan oleh personel Polsubsektor Jekan Raya, Rabu (13/12).

Penangkapan keduanya berawal ketika personel Polsubsektor Jekan Raya melakukan patroli di kawasan Jalan Hiu Putih. Saat itu ditemukan pengendara motor yang mencurigakan karena membawa cangkul dan kardus.

Saat hendak dihentikan, pengendara motor justru berupaya kabur dan sempat terjatuh sebelum akhirnya berhasil diamankan. Dari dalam kardus, petugas menemukan janin bayi yang sudah tidak bernyawa.

Kasat Reskrim Polresta Palangka Raya Kompol Ronny Marthius Nababan, mengatakan jika upaya penguburan janin bayi tersebut dilakukan oleh tersangka NSA dan R, teman tersangka AR.

Saat itu tersangka AR meminta kepada R untuk menemani tersangka NSA yang hendak mengubur bayi hasil hubungan gelapnya.

“Untuk remaja berinisial R masih kita tetapkan sebagai saksi,” ucapnya, Kamis (14/12) siang.

Ia menerangkan, upaya aborsi dilakukan oleh tersangka NSA dibantu tersangka AR menggunakan delapan butir obat yang dibeli seharga Rp4 juta. Obat tersebut dibelikan oleh HN, kakaknya tersangka AR, dari seorang penjual obat berinisial SP yang diketahui turut membeli dari seorang pegawai rumah sakit swasta di Palangka Raya berinisial SC. Kedua orangtua AR turut mengetahui upaya aborsi tersebut.

“Jadi orangtua AR mengetahui aborsi dan kehamilan, sedangkan orangtua NSA tidak mengetahuinya,” terangnya.

Ronny menyebutkan, NSA menggugurkan kandungannya dengan cara meminum obat dan memasukkan obat sisanya ke dalam kemaluan pada Rabu (13/12) siang. Khasiat obat kemudian baru dirasakan sekitar pukul 19.00 WIB, di mana janin bayi yang diperkirakan berumur 6 bulan kemudian gugur.

“Tersangka NSA lalu memotong tali pusar bayi tersebut menggunakan gunting. Bayi tersebut tidak cukup bulan, sehingga ketika keluar dalam keadaan tidak bernyawa,” ungkapnya.

Atas perbuatannya, tersangka NSA dikenakan Pasal 7A UU RI Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UU No.1 Tahun 2016 tentang Perubahan kedua atas UU RI No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Yaitu setiap orang yang dengan sengaja melakukan aborsi terhadap anak yang masih dalam kandungan dengan alasan dan tata cara yang tidak dibenarkan dengan pidana penjara paling lama 10 tahun. Sedangkan untuk tersangka AR dikenakan Pasal 55 dan 56 KUHPidana.

“Kedua tersangka tidak dilakukan penahanan sesuai dengan ketentuan Pasal 32 ayat (1) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Anak. Dalam hal ini orangtua keduanya telah memberikan surat pernyataan dan menjamin tidak melarikan diri,” tegasnya. (eko)

Pos terkait