Kaltengpedia – Palangka Raya – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kalimantan Tengah tengah menghadapi tantangan operasional setelah 28 dapur atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk sementara belum beroperasi. Meski demikian, Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan bahwa kondisi tersebut bukanlah penutupan permanen, melainkan bagian dari proses evaluasi dan pembenahan agar layanan dapat berjalan lebih optimal.
Koordinator BGN Kalimantan Tengah, Elisa Agustino, menjelaskan bahwa sebanyak 14 SPPG saat ini menjalani penghentian operasional sementara karena masih memerlukan perbaikan fasilitas dan penyesuaian terhadap standar operasional yang telah ditetapkan. Pembenahan yang dilakukan mencakup pembangunan instalasi pengolahan air limbah (IPAL), peningkatan sarana pendukung, hingga perbaikan infrastruktur dapur guna memastikan layanan memenuhi standar kebersihan dan keamanan pangan.
Selain faktor infrastruktur, 14 dapur lainnya belum dapat beroperasi akibat keterlambatan pencairan dana operasional. Namun, BGN menyebut proses pencairan anggaran telah mulai dilakukan secara bertahap sehingga sejumlah SPPG yang terdampak diperkirakan segera kembali melayani penerima manfaat.
Menurut BGN, situasi ini justru menunjukkan adanya pengawasan dan evaluasi yang ketat terhadap pelaksanaan program MBG. Pemerintah tidak ingin kualitas layanan gizi bagi pelajar dan kelompok penerima manfaat terganggu akibat fasilitas yang belum memenuhi standar atau kendala administratif yang belum terselesaikan.
Meski penghentian sementara berdampak pada distribusi makanan di sejumlah wilayah, BGN optimistis sebagian besar dapur dapat kembali beroperasi dalam waktu relatif singkat setelah proses pembenahan selesai. Untuk perbaikan ringan diperkirakan membutuhkan waktu satu hingga dua minggu, sedangkan pekerjaan yang lebih kompleks seperti pembangunan IPAL dapat memakan waktu hingga dua bulan.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah bersama BGN juga terus memperkuat pengawasan terhadap pelaksanaan program MBG agar berjalan sesuai standar nasional. Langkah ini dinilai penting untuk memastikan manfaat program strategis tersebut tetap dirasakan masyarakat secara berkelanjutan serta mendukung peningkatan kualitas gizi generasi muda di Kalimantan Tengah. (AR/Kalped)





















