kaltengpedia.com – Kalimantan Tengah – Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah terus memperkuat pemantauan, pencegahan, dan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah. Berdasarkan laporan Posko Pengendalian Karhutla pada Rabu (26/8/2026), sejumlah titik panas dan titik api masih terpantau sehingga operasi pemadaman darat maupun udara terus diintensifkan.
Data BMKG pada 26 Agustus 2026 pukul 14.30 WIB mencatat sebanyak 1.871 titik panas di Kalimantan Tengah. Konsentrasi terbanyak berada di Kabupaten Kotawaringin Timur, Gunung Mas, dan Kota Palangka Raya. Sementara Posko PDB Karhutla Kalteng mencatat 798 hotspot, dengan 688 titik atau 86,21 persen telah dipatroli melalui udara.
Pemantauan berdasarkan data Sipongi dan Fine Fuel Moisture Code menunjukkan indikasi kebakaran dan asap masih ditemukan di sejumlah daerah. Di Kamipang, Kabupaten Katingan, area terbakar diperkirakan sekitar lima hektare dengan kondisi asap tebal. Kondisi serupa ditemukan di Baamang Hulu dan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur.
Di Mentaya Hilir Selatan, kebakaran diperkirakan telah mencapai sekitar delapan hektare dan mendapat dukungan operasi udara berupa pickup water. Sejumlah titik berasap juga terpantau di Pulang Pisau, Kapuas, serta Seruyan.
Operasi water bombing terus dilakukan untuk menekan perkembangan api. Sebanyak 25 kali operasi dilaksanakan di Babirah, Kabupaten Kotawaringin Timur, dan 37 kali di Hiu Putih, Kota Palangka Raya. Namun, beberapa lokasi masih menyisakan kepulan asap dan memerlukan penanganan lanjutan.
Penanganan di darat melibatkan BPBD, Damkar, TNI/Polri, Manggala Agni, Dinas Kehutanan, Masyarakat Peduli Api, Tim Serbu Api Kelurahan, Barisan Pemadam Kebakaran, perusahaan, relawan, hingga mahasiswa.
Di Tumbang Nusa, Kabupaten Pulang Pisau, area terdampak karhutla diperkirakan mencapai 261,08 hektare. Api utama telah berhasil dipadamkan, tetapi sejumlah titik asap yang sulit dijangkau masih membutuhkan pemantauan intensif.
Kalteng masih menghadapi ancaman kekeringan ekstrem, minimnya curah hujan, serta cuaca cerah hingga cerah berawan yang diperkirakan berlangsung sampai 2 September 2026. Kondisi tersebut meningkatkan potensi kebakaran, terutama di kawasan gambut dan lahan dengan vegetasi mudah terbakar.
Sebaran asap juga dilaporkan bergerak ke arah barat laut hingga utara dan berdampak hingga Sarawak, Malaysia. Masyarakat diimbau tidak melakukan pembakaran lahan, mengurangi aktivitas luar ruangan saat kualitas udara memburuk, serta menggunakan masker apabila diperlukan.





















