kaltengpedia.com – Di sebuah rumah panggung sederhana berbahan kayu di kawasan Marina Permai, Kota Palangka Raya, masa depan sedang dipahat perlahan oleh seorang pemuda bernama Aswan.
Rumah itu hanya selebar lima meter dan sepanjang tujuh meter, ditambah tiga meter ke belakang untuk dapur. Satu ruang tamu kecil, satu ruang keluarga, dan dua kamar tidur menjadi saksi bisu kehidupan keluarga Aswan, yang menjalani hari-harinya dengan penuh keterbatasan namun sarat makna.
Dinding gipsum putih di ruang tamu yang sudah penuh coretan pensil warna menjadi latar dari percakapan haru saat Aswan dan sang ibu, Ipah, menceritakan perjalanan pendidikan yang tak pernah mereka bayangkan bisa ditempuh: menjadi mahasiswa.
“Alhamdulillah… beasiswa ini sangat membantu kami,” ucap Ipah, dengan mata berkaca-kaca. Ia sempat meminta surat keterangan tidak mampu dari ketua RT demi mendaftarkan anak sulungnya ke program beasiswa.
Aswan kini duduk di semester tiga Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Palangkaraya. Ia adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Ayahnya seorang buruh harian lepas, ibunya ibu rumah tangga sepenuh waktu.
Dulu, selepas SMA, cita-cita Aswan terasa bagai mimpi di siang bolong. Ia ingin kuliah, ingin menjadi guru, tapi tahu bahwa keluarganya tak punya cukup uang untuk membiayai impian itu. Ia takut, kalau keinginannya justru menjadi beban.
Namun, jalan itu terbuka. Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah menggulirkan program beasiswa Satu Rumah Satu Sarjana. Bagi Aswan, program itu lebih dari sekadar bantuan biaya — itu adalah harapan, kepercayaan, dan pijakan menuju masa depan.
“Saya ingin jadi guru SD. Bagi saya, itu investasi dunia-akhirat,” ujarnya lirih, sembari tersenyum kecil.
Tak ingin menyia-nyiakan peluang, Aswan membagi waktunya dengan disiplin. Kuliah, kegiatan organisasi, dan belajar mandiri ia jalani dengan target IPK minimal 3,5.
Ia tahu, beasiswa itu bukan hanya untuk dirinya. Itu adalah amanah dari pajak rakyat, bentuk kepercayaan dari pemerintah, dan harapan dari orang tuanya yang bekerja keras tanpa pernah mengeluh.
“Saya ingin membanggakan keluarga dan membuktikan bahwa anak dari keluarga sederhana juga bisa berhasil. Kuncinya tekun dan jangan menyerah,” katanya.
Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran menegaskan bahwa Satu Rumah Satu Sarjana adalah program prioritas. Tujuannya: memastikan tidak ada anak Kalteng yang gagal kuliah hanya karena tidak mampu.
“Setiap rumah, minimal satu sarjana. Itu bukan hanya target, tapi investasi sumber daya manusia untuk masa depan daerah,” tegas Agustiar.
Pemprov mengalokasikan Rp123 miliar untuk sekolah gratis dan Rp50 miliar untuk kuliah gratis. Sebanyak 32 perguruan tinggi sudah terlibat, termasuk 12 yang paling aktif mendukung program ini.
Rektor UMPR, Assoc Prof Dr Muhammad Yusuf, menyebut bahwa ratusan mahasiswa penerima beasiswa kini menjadi bagian dari kampus mereka.
“Kami melihat dampaknya langsung. Anak-anak dari pelosok yang dulu pesimis, sekarang kuliah dan berkembang. Kami juga membina mereka secara akademik dan karakter,” ujarnya.
UMPR tak hanya menerima mereka sebagai mahasiswa, tetapi membentuk mereka sebagai pemimpin masa depan. Para dosen memberi mentoring, pelatihan kepemimpinan, hingga dukungan psikososial.
Di balik angka 10.000 mahasiswa, tersimpan 10.000 mimpi dari rumah-rumah kecil seperti milik Aswan. Mimpi yang mungkin tak akan pernah lahir, andai tak ada tangan negara yang menyambut.
Program ini bukan semata beasiswa. Ini adalah gerakan sosial. Ia menjangkau lebih dalam dari sekadar ruang kuliah ia menyentuh ruang harapan, harga diri, dan masa depan.
Aswan, dengan tekad dan semangatnya, adalah satu dari ribuan anak muda Kalteng yang sedang menunjukkan bahwa pendidikan tetap menjadi jalan terbaik untuk melawan kemiskinan dan membangun masa depan yang lebih baik.






















